The Ring
Aku berdendang riang di pagi yang
masih dingin itu, menggumamkan lagu yang terdengar dari headphone dan mengayuh sepeda dengan lancar. Kemudian aku berhenti sejenak
di jalan raya yang sepi, melihat situasi jalan, hendak menyeberang ke jalan
yang mengarah ke kanan, ke kampusku. Jalan itu terbagi oleh pembatas jalan menjadi
dua lajur, dan aku keluar dari jalan yang tidak membolehkan pengguna jalan
berbelok ke kanan–aku harus memutar dulu. Tetapi ada jalan kecil untuk sepeda
di depan jalanku keluar, yang dibatasi oleh sekat-sekat dari besi, yang satu
ruangnya cukup untuk dilewati sepeda.
Tanpa turun dari sepeda, aku
meluncur menyeberangi jalanan yang kosong, menghampiri sekat-sekat besi itu,
dan mengatur sedemikian rupa hingga aku bisa melewati ruang kecil itu.
Atau kupikir begitu.